Latar belakang keluarga yang berbeda tak lantas membuat Prita dan Andi berdebat panjang saat diskusi tentang anak. Sebelum menikah, mereka sudah bersepakatan untuk hidup tenang dan damai berdua saja sampai tua. Mereka bahagia.
Sayangnya, prinsip mereka dianggap melenceng oleh keluarga Andi yang konservatif. Prita dianggap melawan kodrat. Beberapa perkataan dan perilaku anggota keluarga Andi membuat pasangan itu mengelus dada.
Situasi di sekitat mereka semakin mengancam. Kenzo, rekan kerja Prita, mulai terang-terangan mendekatinya. Belum lagi ibu yang menelantarkan Prita sejak kecil, tiba-tiba menutut perhatiannya. Kedai kopi yang terancam bangkrut pun menguras pikiran Andi.
Kedua tidak ingat lagi cara berbahagia. Komunikasi di antara mereka mulai terhambat. Namun, rumah tangga mereka terasa begitu riuh karena mulai terdengar suara-suara orang lain. Kehidupan Prita dan Andi pun tak lagi hanya milik mereka berdua.
Identitas Novel
Judul : Ours
Penulis : Adrindia Ryandisza
Penyunting : Nonie Pahmi
Perancang Sampul : @desaingedang
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2021
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978-602-06-5631-1
Review Ours
Ilustrasi dari pasangan menikah yang sedang chillin di ranjang, seperti sedang berbagi cerita dan dihiasi dengan warna biru yang hangat menggambarkan hubungan Prita dan Andi yang mengandalkan komunikasi untuk memulai hubungan dan menjaga hubungan agar tetap harmonis. Hubungan pernikahan tentu saja tidak mudah, maka dari penting bagi sepasang suami istri untuk tetap membangun komunikasi agar apa yang mereka lalui dalam kehidupan pernikahan bisa lebih mudah. Karena nyatanya, banyak sekali pernikahan yang gagal dikarenakan kurangnya komunikasi dan berakhir salah paham.
Setelah membaca sinopsis, pembaca akan tahu bahwa konflik novel ini cukup sensitif dan lumayan berat. Pasangan yang menganut prinsip childfree memang mayoritas mendapatkan pandangan negatif karena dianggap berbeda. Pasangan suami istri yang memutuskan untuk tidak memiliki anak tentu saja membuat orang-orang bertanya. Mengapa mengambil pilihan tersebut? Namun, sayangnya tidak semua orang memberikan respon ingin seperti itu. Sebagian masyarakat masih senang menilai, memberikan judge yang berlebihan, dan berakhir menyakiti pasangan suami istri tersebut.
Jika kamu membaca novel ini, kamu akan tahu alasan mengapa Prita dan Andi mengambil keputusan tersebut. Ketika membaca ini, aku berusaha untuk bisa berpikir netral dan aku bisa memahami bahwa keputusan mereka ada benarnya. Dengan apa yang sudah Prita lewati dan alami serta kecemasan dan kegundahan Andi terhadap masa yang akan datang bisa dijadikan poin penting mengapa keputusan tersebut bisa dilakukan.
Pernikahan yang Prita dan Andi jalani bukannya manis seperti madu setiap harinya. Mereka juga mengalami masalah kecil, tapi mereka menyiratkan bahwa dengan adanya komunikasi dua arah, semua akan baik-baik saja. Nah, pembaca juga dapat melihat apa yang terjadi pada Prita dan Andi ketika mereka mulai tidak terbuka, tidak mengandalkan komunikasi dua arah, maka yang terjadi adalah pertengkaran. Jujur saja, ketika baca di bagian ini aku merasa deg-degan dengan apa yang akan mereka putuskan selanjutnya. Apalagi dengan adanya perlakuan campur tangan Ibu Andi yang tipikal mertua yang suka ikut campur dan Kakak Andi yang cuma bisa berkomentar, mengeluh, dan sok dalam menilai.
Kehidupan Kakak Andi juga bisa dijadikan pertimbangan oleh para pembaca yang sudah menikah maupu akan menikah. Dari kehidupan Kakak Andi, bisa dilihat bahwa untuk memiliki anak, orangtua harus menyiapkan diri, baik dari segi mental, fisik dan finansial. Jangan sampai mengandalkan orangtua lagi untuk mengurus anak yang sudah dilahirkan.
Gaya penulis bercerita asik dan ringan membuat cerita ini jadi asik buat dibaca. Selain itu, pesan yang ingin disampaikan penulis juga ditulis dengan baik, sehingga aku merasa tidak digurui.
Dari novel ini, bisa dikatakan bahwa Kak Adri ingin menyampaikan bahwa ada baiknya kita tidak menghakimi prinsip dan keputusan orang lain. Jangan terlalu ikut campur dengan kehidupan orang lain, apalagi sampai ingin mengatur yang bukan ranahmu lagi. Dan apabila ingin pernikahan bisa berlangsung dengan bahagia dan rukun, ada baiknya sepasang suami istri membangun komunikasi yang bagus dan tidak mengajak orang lain dalam mengatasi permasalahan, karena pernikahan terdiri dari dua orang yang menikah dan mengucap janji pernikahan.
Penutup
Setelah membaca novel ini, rasanya pembaca yang sudah menikah maupun yang akan menikah harus membaca ini. Novel ini mengajak pembaca untuk mengenal situasi pernikahan yang harmonis dan situasi pernikahan yang mulai mendengarkan suara-suara orang lain dalam mengambil keputusan.
Selain itu, konflik pernikahan Prita dan Andi relate dan dekat dengan lingkungan masyarakat, sehingga pembaca akan merasa dekat. Untuk emosi yang ingin dibangun penulis, aku bisa merasakannya. Novel Ours jatuhnya buat aku gemas dengan sikap Ibu Andi dan kakaknya. Gemas dan kesal lebih tepatnya.
Overall aku suka dengan ceritanya. Buat kamu yang sudah menikah, orangtua, akan segera menikah cocok baca ini. Pesan yang ingin disampaikan cukup mendalam dan bisa dimengerti dengan baik.
Kutipan - Kutipan
"Kita tidak bisa mengendalikan orang, tapi kita bisa mengendalikan diri. Ya, dengan tidak usah didengar itu." (halaman 85)
"Pada umumnya, orang akan mengira istri bekerja untuk menyokong finansial yang tidak memadai, dibandingkan berpikir bahwa istri bekerja karena menyukai pekerjaannya dan ingin mengejar ambisi. Orang menganggap seorang suami tidak bisa diandalkan jika istrinya juga mencari nafkah. Seolaj-olah kedudukan suami akan menjadi rendah. Padahal, Andi percaya bahwa posisi suami dan istri setara; tidak ada yang lebih rendah, tidak ada yang lebih tinggi." (halaman 113)
"Seorang anak adalah makhluk bernyawa dan berperasaan, tidak seharusnya dijadikan taruhan untuk melihat apakah dirinya bisa menjadi ibu yang baik ataupun tidak." (halaman 131)
"Gue rasa lo itu punya prinsip. Itu harusnya bagus. Jadi, lo kagak bakal kepengaruh kata-kata orang juga. Dan suami-istri itu harus punya prinsip yang sama." (halaman 174)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar